
Jakarta, Warta Berkah Indonesia
—
Mobilitas masyarakat di Nagari Anduriang, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, mulai kembali normal seiring dibukanya kembali jembatan darurat di atas Sungai Batang Anai untuk umum.
Beroperasinya akses tersebut menjadi kabar baik bagi ribuan warga yang selama ini terdampak akibat terputusnya jalur penghubung utama.
Berfungsinya kembali akses tersebut menjadi bagian dari percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi yang terus dikawal Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera agar aktivitas masyarakat dapat segera kembali berjalan normal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jembatan darurat kembali difungsikan setelah pekerjaan normalisasi alur Sungai Batang Anai berhasil diselesaikan lebih cepat dari jadwal.
Berkat koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), TNI, Polri, serta berbagai pihak terkait, pekerjaan yang semula diperkirakan membutuhkan waktu tiga hari dapat diselesaikan hanya dalam dua hari.
Pada tahap awal, jembatan dibuka untuk pejalan kaki, sepeda motor, dan kendaraan roda tiga. Sementara itu, kendaraan roda empat masih belum diizinkan melintas karena konstruksi jembatan bersifat sementara dan masih memerlukan penyempurnaan, termasuk pemasangan pagar pengaman di kedua sisi.
Meski demikian, berfungsinya kembali jembatan tersebut telah membawa harapan baru bagi masyarakat. Jalur ini menjadi akses utama yang setiap hari dimanfaatkan lebih dari 2.000 kendaraan dan melayani mobilitas sekitar 40 ribu penduduk di kawasan Kecamatan 2×11 Kayu Tanam.
“Kami benar-benar bersyukur jembatan ini bisa dibuka lebih cepat. Sekarang anak-anak bisa sekolah dan kami bisa bekerja tanpa harus memutar jauh. Semoga pembangunan jembatan permanen segera dimulai,” ujar Rino, warga setempat.
Sebagai bagian dari rehabilitasi dan rekonstruksi permanen, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional telah menyiapkan pembangunan jembatan baru sepanjang 140 meter yang terdiri atas dua bentang masing-masing 70 meter.
Jembatan selebar enam meter tersebut akan menggunakan konstruksi rangka baja dengan nilai investasi sekitar Rp45,2 miliar yang bersumber dari APBN dan ditargetkan mulai dibangun pada 2026.
Pembangunan jembatan permanen ini diharapkan tidak hanya mengembalikan konektivitas masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan infrastruktur di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi.
Dengan demikian, akses transportasi, distribusi barang, layanan publik, serta roda perekonomian masyarakat dapat tetap berjalan meski menghadapi ancaman bencana di masa mendatang.
Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian menegaskan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi dapat dicapai melalui kolaborasi seluruh pihak.
“Kita harapkan dukungan dari semua pihak untuk bergerak bergotong royong mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi,” ujar Tito usai Rapat Tingkat Menteri Tim Pengarah Satgas PRR Pascabencana Sumatera di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Jakarta, beberapa waktu lalu.
(inh)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: Pria Depok Ditangkap Gegara Challenge Bocah Makan Cabai-Masuk Freezer
Baca lagi: Spek Land Cruiser 300, Barang Suap Bupati Kuansing yang Tembus Rp2 M
Baca lagi: FOTO: Kabut Asap Selimuti New York Jelang Final Piala Dunia 2026



