
Jakarta, Warta Berkah Indonesia
—
Mahendra (4) langsung mengangkat tangan ketika mendengar pertanyaan dari seorang guru di sebuah ruangan kecil di kawasan Kebon Bawang,
Jakarta Utara
, Rabu (8/7).
“Apa saja yang termasuk ciptaan Allah?” tanya sang guru.
“Kucing, bu,” jawab Mahendra lantang. Jawaban itu mengundang senyum sang guru. Teman-teman Mahendra pun tertawa kecil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pagi itu, Mahendra menjadi murid pertama yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar. Sambil menggenggam satu kotak susu sebagai hadiah, ia menjadi yang pertama diizinkan keluar kelas untuk beristirahat.
Momen tersebut adalah salah satu bagian dari keseharian anak-anak di Taman Anak Sejahtera Arutala Kebon Bawang.
Taman Anak Sejahtera atau dikenal dengan nama TAS merupakan bentuk pelayanan sosial yang memberikan perawatan, pengasuhan, dan perlindungan bagi anak dari keluarga prasejahtera yang orang tuanya bekerja.
TAS merupakan sasana berbentuk daycare Panti Sosial Asuhan Anak Balita Tunas Bangsa yang merupakan UPT milik Dinas Sosial DKI Jakarta.
TAS Arutala diperuntukkan bagi keluarga ber-KTP DKI Jakarta dengan penghasilan di bawah upah minimum serta tidak menerima bantuan sosial serupa, seperti KJP.
Fasilitas itu diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada 5 Mei 2025 sebagai bentuk realisasi dari program quick win.
Kata “Arutala” berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti rembulan. Namun, kata ini juga bisa berarti cita-cita tinggi yang luhur nan mulia.
Dari luar, bangunan TAS Arutala tak begitu mencolok. Letaknya berada di pinggir Jalan Swasembada Barat II, Kelurahan Kebon Bawang. Dari balik pagar, ayunan dan perosotan berwarna-warni menyambut setiap anak yang datang.
Di dalamnya tersedia banyak ruangan, mulai dari ruang belajar, perpustakaan, poliklinik, ruang makan, hingga kamar tidur berpendingin udara untuk tidur siang.
Saat ini, TAS Arutala menampung 25 anak yang terdiri dari 13 anak laki-laki dan 12 anak perempuan. Anak yang bisa masuk TAS Arutala mulai dari usia 2 hingga 6 tahun atau sebelum memasuki usia sekolah dasar.
Setiap Senin hingga Jumat, hari-hari mereka diisi dengan beragam kegiatan. Pada Senin. anak-anak mengikuti senam dan permainan edukatif.
Selasa diisi dengan belajar membaca, menulis, dan berhitung. Rabu menjadi jadwal mengaji, lalu Kamis untuk berolahraga, sedangkan Jumat diisi dengan kegiatan menari.
Aktivitas dimulai sejak pagi. Setelah diantar orang tua masing-masing, anak-anak terlebih dahulu sarapan bersama.
Setelah itu mereka mengikuti kegiatan belajar selama sekitar satu hingga satu setengah jam, diselingi waktu bermain dan makan kudapan.
Menjelang siang, anak-anak kembali makan, berganti pakaian, membersihkan diri, lalu tidur siang.
Sebelum dijemput orang tua pada sore hari, anak-anak dimandikan sehingga pulang dalam keadaan bersih.
Selama berada di TAS Arutala, anak-anak mendapat tiga kali makan setiap hari, yakni sarapan, makan siang, dan makan sore, serta kudapan di sela-sela kegiatan.
Kepala Panti Sosial Asuhan Anak Balita Tunas Bangsa, Rida Mufrida, mengatakan TAS Arutala dibangun untuk membantu keluarga prasejahtera.
Orang tua yang memiliki dan harus bekerja dari pagi, bisa menitipkan anak di tempat ini.
“Dengan berdirinya daycare ini, orang tua yang prasejahtera, bekerja dan masuk ke dalam data Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional, yang gajinya di bawah UMP, anaknya bisa dititipkan di sini,” kata Rida.
Ia mengatakan seluruh layanan di TAS Arutala diberikan secara gratis. Orang tua tidak dipungut biaya apa pun.
TAS Arutala mengutamakan anak-anak dari keluarga yang tinggal di sekitar lokasi layanan. Orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya dapat datang langsung ke TAS untuk mengikuti proses wawancara dan menyerahkan dokumen pendukung, seperti slip gaji.
Jika kapasitas 25 anak sudah terpenuhi, orang tua yang ingin menitipkan anak akan masuk daftar tunggu.
“Masuk ke waiting list. Barangkali di dalam kehidupannya berjalan namanya dunia berputar ya, di tengah jalan kehidupan orang tuanya yang tadinya mungkin kurang mampu, tiba-tiba mampu dia untuk melihara pembantu sendiri atau pengasuh sendiri, akhirnya anak itu keluar dan yang waiting list ini bisa masuk,” ujar Rida.
Menurut Rida, keberadaan TAS ini sangat bermanfaat bagi orang tua dan anak-anak.
Ia mencontohkan adanya perubahan perilaku anak-anak setelah mengikuti kegiatan di TAS. Anak-anak yang sebelumnya belum terbiasa menghafal doa-doa harian mulai mampu mempraktikkannya, lebih menghormati orang yang lebih tua dengan membiasakan salim, menyapa, dan tersenyum.
Selain itu, anak yang tadinya susah makan, menjadi lahap untuk makan karena kegiatan makan bersama.
“Orang tua yang bekerja menjadi lebih nyaman anaknya dititipkan di TAS ini karena selain dititipkan, juga diberikan pendidikan sekolah, diberikan pendidikan mengaji, olahraga, menari, dan semuanya. Pada saat tidur pun dia diajarkan berdoa, makan juga berdoa seperti itu,” ujarnya.
Rida mengatakan Selain TAS Arutala di Kebon Bawang, Dinas Sosial DKI Jakarta juga mengelola dua Taman Anak Sejahtera lainnya di Duren Sawit, Jakarta Timur dan di Jakarta Pusat.
“Jadi harapannya kepada warga yang memang masuk kategori itu jangan sungkan untuk mendaftarkan anaknya di Taman Anak Sejahtera ini karena sangat-sangat bermanfaat sekali, di mana yang alumni-alumni sebelumnya sudah merasakan bahwa anaknya ada perbedaan setelah dirawat di Taman Anak Sejahtera ini,” ujarnya.
Lanjut ke halaman berikutnya…
Menjelang pukul 11.00 WIB, Retno (41) bergegas memasuki halaman TAS Arutala. Ia datang lebih awal untuk menjemput putrinya, Safeeya. Siang itu, Safeeya harus mengikuti les membaca, menulis, dan berhitung.
Safeeya segera menghampiri ibunya. Tak lama kemudian, keduanya berboncengan sepeda motor menuju tempat les.
Satu jam setelahnya, Retno kembali mengantar putrinya itu ke TAS Arutala untuk melanjutkan aktivitas bersama teman-temannya hingga sore.
Safeeya kini berusia 6 tahun. Tahun depan, Retno berencana untuk mendaftarkan Safeeya masuk sekolah dasar.
Oleh karena itu, selain mengikuti kegiatan di TAS Arutala, Safeeya juga mengikuti les membaca, menulis, dan berhitung sebanyak tiga kali dalam sepekan.
“Sementara kan masih les. Les bisa lah satu jam doang kan. Diselipin waktunya,” kata Retno.
Retno mengetahui adanya TAS Arutala dari keluarganya. Safeeya sudah sejak tahun lalu dititipkan di tempat itu.
Sebelum mengenal TAS Arutala, Retno mengaku kebingungan mencari tempat yang aman untuk menitipkan Safeeya ketika dirinya harus bekerja.
Putrinya itu akhirnya lebih sering berada sendirian di rumah. Lingkungan tempat tinggal mereka yang sepi juga membuat Retno khawatir membiarkan anaknya bermain di luar rumah.
“Kakaknya sekolah, yang pertama kerja, yang kedua sekolah, ketiga sekolah juga kan. Nah dia di rumah sendirian. Entar kalau saya lagi kerja atau bantuin orang di mana gitu kan, di rumah dia, cuma diam, tapi ya main HP gitu,” kata Retno.
Sebagai pekerja serabutan, ia tidak memiliki jam kerja yang tetap. Dalam sehari, ia bisa menerima berbagai pekerjaan, mulai dari mencuci pakaian, mengantar paket, hingga membantu pekerjaan rumah tangga warga.
Sebelum mengetahui adanya TAS Arutala, Retno beberapa kali membawa Safeeya kerja.
Kini, Retno mengaku keberadaan TAS Arutala sangat membantu kehidupannya. Ia kini lebih tenang untuk mencari nafkah. Apalagi, tidak dipungut biaya.
“Aduh, nolong banget ya. Kalau misalkan nggak ada ya sudah dia pasti di rumah dan HP melulu. Di sini nggak main HP malah kan jadi dia itu bisa ada belajarnya juga kan. Kalau di rumah aduh… nggak kekontrol lah,” katanya.
Retno juga mengatakan TAS Arutala mengubah kebiasaan dan perilaku Safeeya. Saat di rumah,
Safeeya lebih sering bermain dengan mainan daripada main gawai.
“Lebih ke nggak terlalu main ke gadget, jadi lebih interaksi sama mainan yang di rumah kayak boneka, masak-masakan. Pokoknya mungkin karena di sini selalu main bareng-bareng kan sama temannya. Dia kayak gimanalah anak kecil kan lebih ke main ya, motoriknya kan terlalu lebih banyak ke permainan,” ujarnya.
Add
as a preferred
source on Google
Orang Tua Bekerja Tanpa Khawatir
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: Trump ‘Nyelonong’ di Foto Juara Piala Dunia, Apa Itu Photobombing?
Baca lagi: FOTO: Menuju Ruang Terbuka Hijau, Bantaran BKB Dibersihkan
Baca lagi: Asisten Pelatih Argentina Terancam Sanksi FIFA, Diduga Pukul Dani Olmo



